NSI.com, JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendampingi Presiden Joko Widodo, memutar kemudi kapal sebagai simbol peluncuran Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. “Untuk memastikan visi Indonesia Emas 2045, sekaligus 3 hal pokok yang disampaikan Presiden Joko Widodo bisa terwujud, MPR RI akan menghadirkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sebagai haluan pembangunan nasional,” kata Bamsoet, sapaan akrab Ketua MPR RI, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, sebagaimana dilansir dari laman dpr.go.id.
Menurut Bamsoet, RPJMN 2025–2045 sebagai visi, misi, arah pembangunan sekaligus pedoman mencapai Visi Indonesia Emas 2045, menuju Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan. Lanjut ditambahkan Bamsoet, sebagaimana ditegaskan Presiden Joko Widodo, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, ada 3 hal pokok perlu diperhatikan, yakni stabilitas bangsa yang terjaga dengan baik, keberlanjutan dan kesinambungan pembangunan dari satu periode pemerintahan ke periode pemerintahan penggantinya, serta pembangunan dengan prinsip Indonesia Sentris.
Dia mengatakan RPJPN itu untuk menjamin siapa pun presiden yang menggantikan Presiden Joko Widodo pada tahun 2024 nanti. maupun presiden pengganti berikutnya hasil pemilu selanjutnya. akan tetap menjalankan Visi Indonesia Emas 2045, sebagaimana yang termuat dalam RPJPN 2025–2045. “Jangan sampai ganti pemerintahan, ganti haluan pembangunan. Sebagaimana ditegaskan Presiden Joko Widodo, kepemimpinan merupakan tongkat estafet yang harus berkesinambungan, bukan seperti meteran pom bensin yang selalu mulai dari nol,” tandasnya.
Dia menjelaskan dalam visi Indonesia Emas 2045, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2045 diperkirakan mencapai 324 juta jiwa, terbesar ke-6 dunia. Pada tahun 2030-an, Indonesia akan menginjak puncak bonus demografi dengan sebanyak 68,3 persen populasi penduduk Indonesia berusia produktif. Puncak bonus demografi hanya terjadi satu kali dalam peradaban sebuah bangsa sehingga Indonesia harus bisa memanfaatkannya sebagai salah satu sumber daya dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045. “Jangan sampai bonus demografi berubah menjadi bencana demografi,” ujarnya.
Sumber : AntaraNews | Editor : Redaksi NSI
