NSI.com, JAKARTA – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila di Bali, bebrepa waktu lalu. Pelatihan dikhususkan untuk generasi muda yang berkreativitas dalam media digital atau konten kreator.
Kepala BPIP Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D mengajak ratusan pelaku konten kreator, untuk meningkatkan kreativitasnya dalam konten-konten positif berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, Pancasila sebagai sesanti Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah pola dasar ke-Indonesiaan.
“Pola dasar itu terbentuk dari akar budaya dan kesejarahan melalui masa yang panjang, dipelihara melalui jaring-jaring konektivitas lintas budaya, lintas iman dan kepercayaan, lintas golongan, lintas ideologi, hingga lintas wilayah,” ujarnya saat membuka acara.
Pancasila dirumuskan sebagai dasar dan tuntutan bernegara melalui upaya penggalian, penyerapan, kontekstualisasi, rasionalisasi, dan aktualisasinya yang bertujuan menopang tradisi, kebiasaan, dan semangat kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
“Suatu hari Bung Karno pernah mengatakan, bahwa kita sekarang (pasca kemerdekaan) berada dalam tingkatan kedua dari Revolusi yaitu tingkatan Nation Building,” kata Prof Yudian.
Karena itu, ia mengajak generasi muda berjuang bersama dalam membina bangsa sesuai dengan bidangnya berlandaskan nilai-nilai Pancasila. “Dibutuhkan sebuah gerakan bersama yang bertumpu pada semangat nasionalisme dan Pancasila,” kata dia.
Pancasila sebagai karakter dan haluan bersama sebagai titik temu, titik tumpu, dan titik tuju bangsa Indonesia tentu membutuhkan gerakan pembudayaan secara berkesinambungan, terencana, dan terpadu.”Modal sosial lahir dari ruang perjumpaan sosial budaya, jejaring dan konektivitas antar komunitas masyarakat, serta semangat inklusivitas yang pada akhirnya mampu membangun rasa saling percaya,” tutur Prof Yudian.
Ia berharap diklat tersebut dapat memunculkan konsolidasi gagasan dan ide, yang mampu meramu gagasan Pancasila sebagai gagasan mendorong kemajuan peradaban manusia.
“Saya berpesan kepada para peserta Diklat untuk menyimak dan mencatat baik-baik materi yang akan diberikan. Melalui penyerapan materi PIP para peserta diharapkan mampu mengimplementasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam sikap, perilaku, etos kerja, etika, dan terobosan-terobosan baru,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Ketua Dewan Pengarah BPIP Mayor Jenderal TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, S.I.P mengatakan Pancasila harus semakin mantap jika semua terlibat dalam menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. “Pancasila tidak akan ada artinya jika nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak diperaktekan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menegaskan Pancasila harus dijelmakan dalam kegiatan penyelenggaraan kedaulatan negara, pemerintahan maupun kebangsaan. Generasi muda atau milenial sangat berperan penting dalam penjelemaan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan profesinya.
Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Sukawati berterima kasih kepada BPIP karena sudah mengajak generasi muda Provinsi untuk berkolaborasi dalam pembumian Pancasila. “Kami mendukung BPIP dan generasi muda dalam mengembangkan karakter Pancasila,” ujarnya.
Ia mengakui generasi muda saat ini bergaulnya tidak lepas dari teknologi dari bidang apapun, namun perlu ada benteng untuk menjaganya supaya tidak kebablasan. “Saya berharap kegiatan ini dapat dipahami dan dihayati terutama dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.”
Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan BPIP Dr. Baby Siti Salamah, M.Psi., Psikolog melaporkan kegiatan tersebut atas dasar Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018. “Presiden Joko Widodo pada saat Presidential Lecture, 3 Desember 2019 di Istana Negara, memberikan arahan bahwa yang lebih penting saat ini adalah membumikan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri, terutama kepada anak-anak muda”, ucapnya.
“Presiden juga meminta agar bagaimana Pancasila bisa diterima dengan mudah oleh anak-anak muda, maka BPIP, khususnya Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan harus memahami karakteristik anak-anak muda sekarang.”
Menurutnya selain konten kreator, Diklat ini diikuti oleh 140 orang anak muda di bidang influencer, pemusik, pelawak, pendongeng (stand up comedian), penulis muda (blog, skenario film/sinetron), olahragawan, penyanyi muda, story teller muda, pebisnis muda, Genre BKKBN, serta penelita muda.
“Diklat ini kami selenggarakan secara terstruktur, terencana, dan terorganisir untuk meningkatkan kompetensi peserta dalam menguatkan ideologi Pancasila di setiap aktivitasnya sebagai generasi muda, sekaligus sebagai duta-duta Pancasila,” kata Baby. (*)
Sumber : Tempo.co | Editor : Redaksi NSI
