NSI.com, SAMARINDA – Sejumlah tokoh penting di Kaltim yang tergabung dalam Ikatan Alumsi SMP Negeri 1 maupun Ikatan Alumni SMA Negeri 1, beberapa waktu lalu menggelar pertemuan yang digagas Wahyudi Manaff sebagai ketua Panitia dan Ketua Umum IKA SPANSA, H. Hadi Mulyadi M.Si, berlangsung di Markas Korem 091/ASN, Jl. Gajah Mana Kel. Bugis, No.11, Samarinda, Kaltim.
Pertemuan yang dikaitkan dengan acara Reuni Akbar dan Anniversary ke-75 tahun SPANSA Samarinda tahun 2022 ini, mendiskusikan tentang “Heritage Tapak Kota Samarinda”, pada acara Dinner Time Samarinda Heritage, dimana Dr. Ir, H Isran Noor M.Si sebagai Gubernur dan Brigadir Jendral TNI Dendi Suryadi, SH, MH sebagai pihak yang turut mengundang pertemuan itu, membuahkan hasil atau kesepakatan, agar penamaan Taman Samarendah, diubah menjadi Taman Pemuda.

Hal tersebut dikemukakan, Mulyadi Djamhur sebagai narahubung dalam kegiatan ini, mengatakan, acara pertemuan yang dihadiri puluhan tokoh penting di Kaltim, menyepakati dua hal, pertama setelah mendapatkan restu dari Gubernur, secara aklamasi Brigjen Dedi Suryadi di tetapkan sebagai Ketua Ikatan Alumni SMA Negeri 1 untuk periode 2022-2027. Kedua, penamaan Taman Samarindah disepakati untuk diubah menjadi Taman Pemuda.

“Pertemuan malam itu hadir Danrem 091/ASN Brigjend TNI Dendi Suryadi, Pak Wagub H. Hadi Mulyadi, Ronal Lolang, Said Safran, Bu Melliana, Wawali Samarinda Dr. Rusmadi Wongso, dan sejumlah tokoh lainnya, membahas tapak sejarah pertama berdiri sekolah di Kaltim yang menghasilkan orang penting di Kaltim, adalah SMPN1 dan SMAN.1 Samarinda yang beralamat di jalan Bhayangkara Samarinda,” jelas Mumul, sapaan akrab Mulyadi Djamhur kepada pewarta NSI.com.
Lebih lanjut Mumul menuturkan, penamaan Taman eks sekolah SMPN.1, SMAN.1 dan lapangan Pemuda itu, yakni Taman Samarendah tak memiliki nilai historis yang begitu penting. Oleh karebanya setelah dikonfirmasi ke pihak pemerintah Kota, penamaan Taman Samarendah ternyata tak dilandasi hukum berupa Perda, sehingga malam itu disepakti agar nama Taman Samarendah diganti menjadi Taman Pemuda.

Dibeberkan Mulyadi, yang juga tercatat sebagai alumni SMPN.1 dan SMAN.1 Samarinda ini, bahwa bangunan SMP Negeri.1 yang berlokasi di Jalan, Bhayangkara itu, merupakan bangunan bersejarah, dimana gedung sekolah itu dulunya milik penjajah Belanda, berupa Rumah Sakit (OBM Hospital) yang pada tahun 1947 dialihfungsikan menjadi tempat pendidikan SMP Negeri 1 Samarinda, termasuk berdirinya SMA Negeri 1 Samarinda yang gedungnya bersebelahan.

Kini, sambung Mumul, jejak sejarah bangunan gedung SMPN 1 dan SMAN 1 termasuk lapangan Pemuda yang pernah menjadi lokasi pidato pertama Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto hilang/punah menjadi Taman Samarendah, dimana penamaan taman tersebut tidak mengadung nilai historis untuk generasi yang akan datang.
“Sebelum menjadi Lapangan Pemuda, ada lahan kosong berupa rawa-rawa didepan SMPN 1 Samarinda. Untuk menyambut kedatangan presiden Pertama RI, Soekarno ke Samarinda, oleh masyarakat rawa-rawa kemudian ditimbun dengan tanah urug, sehingga jadilah Lapangan Pemuda. Di Lapangan itu, presiden RI Ir. Soekarno untuk pertama kalinya berpidato di Kota Samarinda, Kaltim, tepatnya pada hari Minggu tanggal 17 September 1950,” ungkap Mumul, seraya menambahkan bahwa lapangan Pemuda itu juga menjadi saksi sejarah ketika Bung Karno menyampaikan pidatonya, sebulan setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) dibubarkan dan diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lanjut dikatakan Mumul, selain Presiden Soekarno, di lapangan Pemuda juga dijadikan tempat presiden ke-2 RI yakni Soeharto menyampaikan pidatonya, saat datang ke Samarinda pada hari Minggu tanggal 20 Oktober 1968, pada kegiatan kunjungan pertamanya di Kaltim.

“Jadi jika penamaan Taman Samarendah yang disematkan di lokasi eks.SMP/SMA Negeri 1 dan lapangan Pemuda tersebut tetap dipertahankan, maka lokasi bersejarah dimana Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto pernah pidato di Lapangan Pemuda akan hilang dan generasi mendatang tak lagi mengetahui bahwa di taman Samarendah itu memiliki historis yang luar biasa. Sehingga taman Samarendah diusulkan untuk diubah menjadi Taman Pemuda, agar tapak sejarah masih bisa terus dikenang,” harap Mumul. (yon’s)
