Nusantara Satu Info
Edukasi POLITIK

Rektor UNS Batal Dilantik, DPR Minta Penjelasan Disampaikan ke Publik

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih. Foto: Dep/nr

NSI.com – KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memutuskan untuk membatalkan pengukuhan Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) periode 2023-2028 terpilih, atas nama Sajidan. Melalui Permendikbudristek Nomor 24/Tahun 2023 tentang Penataan Peraturan Internal dan Organ di Lingkungan UNS tanggal 31 Maret 2023, Kemendikbudristek menyatakan pembatalan Sajidan sebagai Rektor UNS terpilih periode 2023-2028, sekaligus pembekuan Majelis Wali Amanat (MWA) UNS.

Sebagaimana dilansir dari laman dpr.go.id, disebutkan bahwa, kebijakan ini lahir lantaran Peraturan Majelis Wali Amanat UNS Nomor 8 Tahun 2022 tentang Tata Tertib Pemilihan Rektor UNS Masa Bakti 2023-2028, yang mencantumkan penetapan rektor baru tersebut, dianggap bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, Rektor Terpilih UNS Sajidan diduga melakukan kecurangan demi memenangkan kontestasi tersebut.

Menanggapi polemik yang terjadi, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih meminta Kemendikbudristek, menjelaskan kepada publik secara gamblang alasan di balik keputusan tersebut. “Saya kira harus dijelaskan kepada publik, hal-hal yang umum yang bisa dijelaskan kepada publik. Kan, nggak semuanya harus dirahasiakan. Saya kira di era seperti sekarang, nggak bisa kita menutup-nutupi. Kan, (polemik ini) bisa (membuat) tidak kondusif semua di perguruan tinggi,” tutur Fikri melalui pesan suara yang disampaikan, Kamis (14/4/2023).

Pasalnya, sambung Fikri, ia tidak ingin polemik pembatalan Rektor UNS secara mendadak itu, menjadi ‘bola liar’ yang dibiarkan, karena tanpa ada tindak lanjut yang pasti. Di sisi lain, ia menegaskan jika memang ada kejanggalan dalam proses pemilihan Rektor UNS, seharusnya bisa dicegah sejak awal. “Andaikan ada indikasi ketidakberesan, kan itu ada tools, ada alat evaluasi, verifikasi, sehingga nggak ada approvaldulu. Ya, jangan tanda tangan kalau memang tidak (beres). Kan begitu. Ini sudah tanda tangan kemudian dibatalkan karena ada laporan, kemudian ada investigasi, kemudian sebagainya. Ini problematika,” terangnya.

Tahun 2023, beberapa perguruan tinggi Indonesia juga akan menggelar pemilihan rektor. Oleh karena itu, Fikri meminta agar Kemendikbudristek dan setiap elemen perguruan tinggi terkait, untuk berupaya  memastikan agar proses pemilihan rektor berjalan sesuai dengan peraturan berlaku. “Ini hal-hal strategis dan umum (yang) harus disampaikan kepada publik. Kalo nggak, (akan muncul) spekulasi-spekulasi tersebut (yang) tidak bisa dibendung. Jangan (biarkan) ini jadi ‘bola liar’. Kita kan punya banyak perguruan tinggi,” tutup legislator Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX itu.

Terkait dengan tuduhan kecurangan yang terkuak melalui sejumlah postingan di akun media sosial, pada November 2022 lalu itu, mencuat setelah Permendikbudristek ditetapkan, Mendikbudristek Nadiem Makarim akan mengambil alih wewenang MWA, untuk mengambil alih tugas yaitu melakukan pemilihan rektor baru UNS ini

Di sisi lain, Permenristekdikti Nomor 19 Tahun 2017 dan Nomor 21 Tahun 2018 mengatur tentang tahap ketiga yakni pemilihan calon rektor, dilakukan dalam rapat senat tertutup dihadiri anggota senat dan menteri. Dalam pemilihan, menteri memiliki hak suara 35 persen, sementara senat memiliki hak suara 65 persen.

Jika 2 calon memiliki suara tertinggi dengan jumlah yang sama, dilakukan pemilihan rektor putaran kedua. Jika jumlah suara pada putaran kedua masih sama, maka menteri yang akan memutuskan calon rektor terpilih. Pada tahap terakhir, barulah calon rektor terpilih ditetapkan dan dilantik oleh menteri.

Editor : Redaksi NSI

 

Related posts

PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 patriot88 patriot88 langit77 PATRIOT88 patriot88 slot gacor patriot88 patriot88 patriot88 patriot88 slot gacor