NSI.com, JAKARTA – Dalam rangka membangun IKN Nusantara, pemerintah membuka peluang seluas-luasnya bagi para investor untuk menginvestasikan dananya. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, perkembangan minat investasi di IKN Nusantara saat ini meningkat 40 kali lipat, sehingga lahan yang dibutuhkan mencapai 1.400 hektar di zona 1B dan 1C.
Jumlah tersebut jauh lebih besar bila dibandingkan dengan market sounding pertama pada 22 Agustus 2022 dengan luas hanya 38 hektar. “Minat investor utamanya dalam mengembangkan fasilitas pendidikan, kesehatan, perumahan, dan perkantoran/jasa serta komersial. Untuk itu kami mengundang Datuk, Tuan dan Puan untuk berdiskusi lebih lanjut dengan rekan-rekan saya yang berada disini,” ungkap Basuki dalam Forum IKN Nusantara di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (30/11/2022).
Ditambahkan Basuki, pemerintah Indonesia sangat terbuka bagi perusahaan yang ingin berinvestasi, baik melalui mekanisme investasi langsung maupun Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Total kebutuhan investasi IKN, sambung Basuki mencapai 30 miliar Dolar Amerika Serikat atau senilai Rp 471,8 triliun.

Sedangkan, anggaran Pemerintah dialokasikan sekitar 20 persen dari jumlah tersebut atau 80 persennya bersumber dari luar APBN, melalui skema Public Private Partnership (PPP), pendanaan kreatif, investasi swasta dan instrumen lainnya. “Untuk itu, Pemerintah Indonesia membuka peluang emas bagi investor lokal maupun asing, untuk berpartisipasi dalam pembangunan IKN Nusantara ini,” papar Basuki.
Lanjut dijelaskan Basuki, pemerintah akan memberikan berbagai kemudahan untuk investasi di IKN, khususnya KIPP zona 1A, 1B dan 1C dalam tahap awal pengembangan IKN Nusantara. “Kami ingin melangkah maju bersama dan akan memberikan karpet merah yang lebih merah bagi para investor Malaysia, khususnya sebagai sahabat Indonesia,” tegas Menteri Basuki.
Sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2021 Malaysia merupakan salah satu negara dengan nilai investasi 10 terbesar di Indonesia, dengan nilai total transaksi antara 2,2 miliar Dolar AS per tahun. Investasi yang dilakukan mulai dari bidang perbankan, perkebunan, konstruksi, industri makanan, minyak dan gas, hingga telekomunikasi.
Sumber : Kompas.com | Editor : Redaksi NSI
