NSI.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut B. Pandjaitan belum lama ini menerima kedatangan tamu dari Negara Qatar, di Kantor Kemenko Marves, Jakarta, pada Senin (12/6/2023). Negara ini, ungkap Luhut menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di Indonesia, salah satunya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. “Saya baru terima tamu, maaf terlambat (datang ke acara peluncuran Battery Asset), ada tamu datang dari Qatar. Saya mau masuk new capital, apa yang saya dapat di Nusantara, apa yang saya dapat di sini dan seterusnya,” ujarnya,
Lanjut dikatakan Luhut yang juga menjabat Ketua Satgas Percepatan Investasi IKN ini, bahwa soal IKN baru berani ditawarkan apabila sudah selesai pembangunannya. Namun dirinya tak spesifik menyebutkan sektor mana di IKN yang dilirik oleh Qatar. “Kita lihatlah nanti (soal keinginan Qatar berinvestasi), harus proyek itu (IKN) jadi dulu baru kita bilang bagus,” katanya.
Kendati demikian, dia tetap memproses keinginan investasi dari Qatar dengan membentuk tim gugus tugas (task force). “Langsung kita bikin task force g to g (government to government) kemudian strategic partner. Dua ini jalan mengidentifikasi masalah terus dan kemudian kita akan attack masalah ini,” jelas Luhut.
Beberapa waktu lalu, Kepala Otorita IKN Bambang Susantono menyebutkan, sebanyak 209 investor telah menyatakan minatnya berinvestasi di IKN melalui Letter of Interest (LoI). Namun dari jumlah tersebut ada 36 investor telah meningkatkan statusnya. “Sudah cukup banyak Letter of Interest yang disampaikan kepada kami di Otorita IKN. Jumlah per hari ini 209 (LoI),” katanya dalam keterangan pers dikutip dari kanal Youtube Sekretariat Presiden, Senin (15/5/2023).
“Dari Letter of Interest 209 itu, sekitar 36 sudah menandatangani Non Disclosure Agreement (NDA). Jadi sudah meningkat pada tahap selanjutnya dimana pembicaraan akan lebih detail karena data-data sudah kita pertukarkan dan selanjutnya biasanya kunjungan ke lapangan,” lanjut Bambang. Kemudian lanjut dia, para investor ini akan membuat studi kelayakan, lalu rencana bisnis yang akan diambil. Untuk realisasi investasinya sendiri kata Bambang, memang memerlukan proses yang panjang.
Sumber : Kompas.com | Editor : Redaksi NSI
