Nusantara Satu Info
Daerah News

Guru Besar UGM: Pembangunan IKN, Perlu Narasi Lebih Kuat

Guru Besar Perencanaan Kota UGM Bakti Setiawan (paling kanan) dan Guru Besar Bidang Sosiologi Nanyang Technological University Sulfikar Amien (dua dari kiri) pada diskusi Skenario IKN di Sleman. foto antara news.

NSI.com, SLEMAN – Guru Besar Perencanaan Kota Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Bakti Setiawan menilai, diperlukan narasi-narasi lebih kuat terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), agar megaproyek yang digagas Presiden Joko Widodo ini lebih terdengar secara lebih luas lagi.

“Saya menilai yang kurang dari pembangunan IKN adalah narasi-narasi yang besar dari Presiden Jokowi,” kata Bakti pada diskusi “Skenario IKN”, di Kabupaten Sleman, D.I.Yogyakarta, Rabu sore lalu.

Menurutnya, dengan banyak narasii yang dipublikasikan, maka apa yang menjadi cita-cita besar di balik pembangunan IKN akan semakin banyak diketahui khalayak. Sebenarnya apa yang diharapkan dari megaproyek tersebut. “Cita-cita besar di balik pembangunan IKN tersebut sampai saat ini tidak pernah tersampaikan,” katanya.

Oleh karenanya, pembangunan IKN di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, sebenarnya sudah mendapat sambutan baik dari tokoh-tokoh di luar Jawa. “Banyak yang mendukung IKN, terutama dari luar Jawa karena pembangunan tidak hanya terpusat di Pulau Jawa,” katanya seraya menambahkan pembangunan IKN ini akan berdampak pada pembangunan kota-kota lain di luar Pulau Jawa dan tidak sebatas “Jawa Sentris”.

“Narasi-narasi harus lebih diperkuat. Selama ini yang banyak diketahui masyarakat hanyalah alasan pembangunan IKN karena beban Kota Jakarta yang sudah berat. Tetapi cita-cita besar selain itu tidak pernah tersampaikan,” jelasnya.

Sedangkan Guru Besar Bidang Sosiologi Nanyang Technological University Singapura, Sulfikar Amien mengatakan pembangunan IKN merupakan perwujudan dari keinginan Presiden Jokowi yang mau memindahkan ibu kota.

“Presiden Jokowi sendiri berangkat dari kota, yakni dari Wali Kota Surakarta dan akan berakhir di IKN. Ingin membuat lingkaran yang sempurna, awal dari kota dan mengakhiri di kota,” katanya.

Sulfikar lanjut mengatakan selama ini di Indonesia jarang ada pembangunan kota yang besar, seperti megaproyek pembangunan IKN. “Kalaupun ada itu memperbesar kota atau memindahkan kota,” katanya.

Oleh sebab itu, pembangunan IKN tentunya akan menelan anggaran sangat banyak dan pembangunan yang sifatnya panjang. “Konsekuensinya adalah tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi,” tandasnya.

Sumber : Antara.News | Editor : TMC

Related posts