NSI.com, JAKARTA – Mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas periode 2014-2015 yakni Andrianof Chaniago, yang diketahui sebagai inisiator pemindahan ibu kota negara (IKN) Nusantara ini, dirinya mengaku optimisti, bahwa pembangunan IKN akan berjalan sesuai cetak biru yang sudah dirancang pemerintah. Oleh karenanya, Andrinof mengapresiasi kerja tim Kementerian PUPR dan Otorita IKN. “Kalau progres sejauh saya pantau baik langsung maupun tidak langsung, ini luar biasa. Saya salut khususnya tim dari Kementerian PUPR dan juga tentu tim IKN ya, betul-betul total melakukan manajemen proyek yang all out,” kata Andrinof dalam diskusi yang dilangsungkan secara daring, digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema “Geliat IKN Menyongsong Masa Depan”, Senin (6/3/2023).
Andrinof lanjut menyebutkan, banyak progres yang mulai terwujud dalam kawasan inti IKN, beberapa di antaranya, pembanguan rumah pekerja, badan jalan yang selesai dalam tempo 3 bulan hingga 6 bulan. “Progres seperti ini adalah sesuatu yang baru dalam proyek infrastruktur. Hal ini menunjukan kesiapan serta keseriusan pemerintah untuk menuntaskan pembangunan pemindahan ibu kota negara baru ini,” tutur Andrinof seraya menjelaskan, faktor yang membuatnya optimis akan rampungnya proyek ini adalah keterlibatan Presiden Jokowi yang mengawasi langsung. dengan meninjau lokasi pembangunan secara rutin setiap 3 bulan sekali.
Dalam sejarahnya, sambung Andrianof, masyarakat perlu memahami pembangunan sebuah kota baru, khususnya yang menjadi lokasi ibu kota negara membutuhkan waktu cukup panjang. Paling cepat, katanya, memakan waktu 10 tahun hingga 15 tahun. “Khususnya kota-kota baru yang menjadi tempat pindahnya ibu kota, memang 10 tahun itu paling cepat dalam catatan kita. Saya rasa, dengan studi di 30 negara lebih waktu itu, kita lihat durasinya memang sekitar 10 sampai 15 tahun,” ungkap Andrinof.
Oleh karenanya, Andrinof menyarankan kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait. untuk fokus membangun kawasan inti. Hal ini karena sumber pendanaannya jelas yakni dari angaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Menurutnya, pembangunan kawasan inti akan menarik sektor swasta sebagai investor untuk melakukan pembangunan dan pengembangan di kawasan penunjang. “Untuk kawasan inti, saya yakin 4 tahun sudah selesai. Karena ini sumber biayanya pasti, yaitu APBN. Kalau dana APBN ditaruh rata-rata Rp 25 triliun per tahun, ya 5 tahun saya rasa itu (pembangunan) tuntas ya,” ujarnya.
Lebih jauh, Andrianof menjelaskan, IKN merupakan sebuah alat, sekaligus proyek strategis dalam rangka membangun Indonesia menjadi lebih sejahtera, dengan adanya pemerataan pembangunan. Untuk itu, membangun kawasan sekitar IKN merupakan suatu hal yang penting. “Maka dari itu, potensi daerah-daerah yang berada 30 hingga 35 kilometer, sebagai kota-kota baru juga perlu direncanakan dari sekarang. Artinya perencanaan wilayah dan antarwilayah di Kalimantan Timur maupun Kalimantan tentu harus dijalankan secara seiring,” katanya.
Andrinof kembali berharap kepada pemerintah dan seluruh stakeholder, terutama pemerintah provinsi dan kabupaten, harus memahami posisi daerahnya dalam mementaskan potensi daerah masing-masing. “Misalnya Tenggarong itu potensinya luar biasa untuk menjadi kota wisata, setelah hadirnya IKN di Kutai Kertanegara, dan Panajem Paser Utara itu, yang jaraknya tempuh perjalanannya hanya sekitar 1 hingga 1,5 jam dari Tenggarong. Sementara Tenggarong juga secara infrastruktur dasar pariwisata juga sudah siap,” terangnya.
Sumber : BeritaSatu | Editor : Redaksi NSI
