Nusantara Satu Info
EKONOMI PEMERINTAHAN

Jokowi dan Sri Mulyani Sampaikan Kabar Baik Ekonomi Indonesi

 Foto: Presiden Joko Widodo Hadiri Rapat Konsolidasi Nasional Kesiapan Pelaksanaan Pemilu Serentak 2024,2/12/2022 (Tangkapan Layar via Youtube Sekretariat Presiden)

NSI.com, JAKARTA  Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, membagikan kabar baik bagi masyarakat Indonesia, berkaitan dengan kondisi perekonomian Tanah Air yang semakin kuat. Kabar baiknya, sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi, menyangkut industri baterai dan kendaraan listrik yang bisa memberikan keuntungan berlipat ganda, bagi perekonomian Indonesia. Seiring dengan, keberhasilan program hilirisasi nikel.

Menurutnya, selama ini Indonesia hanya mengekspor bijih nikel, dan memberikan nilai tambah bagi ekspor sebesar US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun. Namun, saat hilirisasi nikel berjalan, hingga berupa produk stainless steel, nilai ekspor meningkat 18 kali lipat menjadi sekitar Rp 320 triliun.  Tidak hanya itu, dalam kesempatan yang sama, Jokowi juga menyampaikan pesan Managing Director IMF Kristalina Georgieva, yang mengatakan kalau Indonesia merupakan titik terang di tengah kesuraman ekonomi global. “Hati-hati, di tengah kesuraman ekonomi global, Indonesia adalah titik terangnnya. Dia ngomong seperti itu,” ujarnya.

Lebih lanjut dikemukakan Jokowi, penilaian Kristalina bukan tanpa alasan. Sejumlah indikator makroekonomi menguatkan hal tersebut. “Coba dilihat inflasi kita, inflasi terjaga, 5,7 persen, dunia sudah di atas 10 persen, 12 persen, semuanya bahkan ada yang sudah lebih dari 80 persen. Kenapa kita harus pesimis kalau angkanya terjaga seperti itu. Kita harus optimis,” kata Jokowi seraya menuebut bahwa kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2022 mencapai 5,72 persen, itu jauh di atas proyeksi untuk dunia di 2022 sebesar 3,2 persen.

Terkait Purchasing Manager Index Indonesia, menurut Jokowi, juga pada level ekspansif. Semua negara terkontraksi di mana rata-rata dunia sudah di bawah 50, sedangkan Indonesia 51,8 persen, masih di atas 50 persen. Lebih lanjut, neraca perdagangan sudah surplus 30 bulan berturut-turut, setelah sebelumnya selalu defisit, tepatnya sejak Mei 2020. “Artinya, ekspor kita lebih besar dari impor. Kenapa kita tidak optimis? Harus optimis,” kata Jokowi.

Indikator terakhir yang disampaikan Jokowi adalah neraca transaksi berjalan. Per 2019, Indonesia masih defisit US$ 30 miliar atau -2,7 persen terhadap PDB. Sekarang sudah surplus US$ 4,4 miliar dolar atau 1,3 persen terhadap PDB. “Sekali lagi kenapa tidak optimis, kalau angka-angkanya menunjukkan seperti ini, harus optimis, jangan sampai ada yang menyampaikan pesimisme, baca angka-angka tadi, harus optimis,” tegas Jokowi.

Sedangkan kabar baik yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, ihwal perkiraan ekonomi Indonesia yang tak akan terkena resesi pada tahun ini. Terutama, jika pertumbuhan ekonominya terjaga di atas 5 persen hingga akhir tahun ini. Sejak kuartal IV – 2021, dia berujar, ekonomi Indonesia terbukti mampu tumbuh di atas 5 persen, yaitu di level 5,02 persen. Lalu berlanjut pada kuartal I – 2022 sebesar 5,01 persen, kuartal II mencapai 5,44 persen dan kuartal III di posisi 5,72 persen.

“Kita harap sampai akhir tahun growth di atas 5 persen itu, masih tetap bisa dipertahankan, kalau itu terjadi, berati 5 kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu di atas 5 persen,” ungkap Sri Mulyani di acara Rapimnas Kadin 2022.

Dengan capaian ini, sambung Sri Mulyani, APBN 2023 akan tetap dirancang dengan desain optimistis, namun tetap waspada. Optimisme ini kata Sri Mulyani, karena pemerintah melihat proses pemulihan ekonomi Indonesia berjalan dengan baik. Makanya defisit APBN diperkecil menjadi 2,84 persen dari 2022 yang diperkirakan 3,92 persen.

Selain itu, kata Sri Mulyani, asumsi makro APBN 2023 ditargetkan pertumbuhan ekonominya sebesar 5,3 persen, merupakan hal cukup ambisius di tengah kondisi ekonomi global yang masih tertekan. “Itu sangat ambisius pada saat faktor-faktor terutama global bisa memperlemah ekspor, investasi, konsumsi melalui interest rate yang tinggi, nilai tukar dolar yang menguat karena adanya likuiditas tightening, dan pelemahan ekonomi negara-negara maju,” pungkasnya.

Sumber : CNBC Indonesia | Editor : Redaksi NSI

Related posts

PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 PATRIOT88 patriot88 patriot88 langit77 PATRIOT88 patriot88 slot gacor patriot88 patriot88 patriot88 patriot88 slot gacor