NSI.com, JAKARTA – Sejumlah nama mencuat untuk menjadi bakal cawapres 2024 mendampingi Anies Baswedan, usungan Koalisi Perubahan untuk Persatuan terdiri Partai Nasdem, Demokrat dan PKS. Anies Baswedan sendiri mengaku sudah mengantongi nama cawapres untuk Pilpres 2024. Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Sohibul Iman membocorkan ada 3 dari 5 nama bakal cawapres untuk Anies itu.
“Sudah saya bilang usulan dari partai koalisi PKS, NasDem, dan Demokrat dan yang diusulkan oleh tim kecil. Itu sudah disampaikan ke Pak Anies lima nama itu,” kata Sohibul Iman seusai acara ground breaking kampus Universitas Paramadina di Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (23/5).
Sohibul lebih lanjut mengatakan, 3 nama Bacawapres yang sudah di kantong Anies itu, yakni Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher). “Ya mungkin ada Mas AHY, ada Kang Aher. Kemudian dari NasDem kan menyodorkan Ibu Khofifah. Iya (sudah diusulkan ke Anies) kan tadi yang ada di meja koalisi,” ujarnya.
Namun Sohibul enggan membocorkan dua nama lain. Menurutnya, penentuan cawapres akan ditunjuk langsung oleh Anies nantinya. Seberapa kuat nama-nama bakal cawapres yang dibocorkan PKS dalam survei? Litbang Kompas merilis hasil survei terbaru, terkait keterpilihan tokoh layak menjadi cawapres 2024. Hasilnya, ada nama Agus Harimurti Yudhoyono meski tak unggul dalam survei tersebut.
Seperti dilihat pada Rabu (24/5), survei periodik Litbang Kompas melalui wawancara tatap muka dilakukan pada 29 April-10 Mei 2023. Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 38 provinsi.
Tingkat kepercayaan survei Litbang Kompas menggunakan metode ini yakni 95 perse. Margin of error +- 2,83 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.
Adapun hasil survei keterpilihan tokoh layak menjadi cawapres Litbang Kompas, ada nama Ridwan Kamil: 9,3 persen, Sandiaga Uno: 11,9 persen, Anies Baswedan: 4,8 persen, Ganjar Pranowo: 5,2 persen, Agus Harimurti Yudhoyono: 4,1 persen, Prabowo Subianto: 3,4 persen, Tri Rismaharini: 2,2 persen, Erick Thohir: 4,5 persen, dan tokoh lainnya: 4,9 persen, lalu yang menjawab tidak ada: 6,3 persen serta yang menjawab Tidak tahu/rahasia: 43,4 persen.
AHY mengalami peningkatan dalam tren keterpilihan tokoh layak menjadi cawapres. Pada Januari lalu, AHY mendapat angka 3,7 persen, meningkat menjadi 4,1 persen pada Mei. Sementara nama Khofifah Indar Parawansa dan Ahmad Heryawan atau Aher tak muncul di hasil survei Litbang Kompas.
Sedangkan hasil survei dilakukan,Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis bakal cawapres 2024 potensial. Nama AHY dan Khofifah Indar Parawansa muncul dalam survei ini. Survei dilakukan pada periode 30 April-5 Mei 2023, menggunakan metode random digit dialing (RDD) atau teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Sebanyak 1.200 responden yang merupakan warga dengan hak pilih, berusia 17 tahun ke atas, atau sudah menikah. Margin of error survei berada di +- 2,9 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih.
Hasilnya, Indikator menampilkan hasil simulasi 7 nama cawapres potensial. Responden diberikan pertanyaan ‘jika pemilihan presiden diadakan sekarang, siapa yang ibu/bapak anggap paling pantas sebagai calon Wakil Presiden di antara nama-nama berikut?’. Hasilnya sebagai berikut :
1. Sandiaga Uno: 24,5 persen.
2. Ridwan Kamil: 18,3 persen.
3. Erick Thohir: 15,3 persen.
4. Mahfud Md: 13,7 persen.
5. Agus Harimurti Yudhoyono: 7,5 persen.
6. Khofifah Indar Parawansa: 5,7 persen.
7. Muhaimin Iskandar: 1,1 persen
8. TT/TJ (Tidak Tahu/Tidak Jawab): 13,8 persen
Sementara berdasarkan simulasi 5 nama cawapres, nama AHY dan Khofifah Indar Parawansa, sedangkan Aher tidak. Rincian lengkapnya sebagai berikut:
1. Sandiaga Uno: 27,8 persen.
2. Ridwan Kamil: 21,5 persen.
3. Erick Thohir: 18,8 persen.
4. Agus Harimurti Yudhoyono: 9,4 persen
5. Khofifah Indar Parawansa: 7,6 persen.
6. TT/TJ: 15 persen.
Sumber : Detikcom | Editor : Redaksi NSI
